Perasaan trengginas yang ditimbulkan oleh perilaku orang-orang beracun itu dapat amat menusuk hati dan sukar untuk disikapi.
Hal ini bisa menjadi suatu musibah yang mampu menggoncangkan kami serta mencoba untuk menjaga semua sesuatu yang dimiliki.
Akan tetapi, kita sebagai makhluk hidup memiliki insting bawaan untuk selamat dari berbagai hambatan atau kesulitan yang mencegah kami.
Perasaan ingin menjaga diri ini lah yang memaksa kita untuk memiliki insting kelangsungan hidup yang vital, agar dapat menangani serta meredam kesengsaraan.
Menurut laporan dari Hack Spirit, berikut ini tujuh kecenderungan instinct untuk bertahan hidup yang bakal semakin tumbuh setelah merasakan penipuan oleh individu-individu toxik.
1. Meningkatkan Kewaspadaan
Saat mengalami penolakan, rasanya seperti dunia menjadi kurang aman dari yang kita bayangkan, sehingga tingkat kekhawatiran pun bertambah.
Inilah cara alami kita untuk menjadi lebih berhati-hati dan peka. Meningkatnya kepekaan ini sebenarnya bertujuan sebagai langkah protektif.
Itulah cara otak kita meyakinkan diri kita sendiri agar tidak terluka kembali oleh orang-orang toxic yang mengkhianati kita.
Kita mulai lebih memperhatikan tindakan dan perkataan orang lain, mencari tanda-tanda ketidakjujuran atau potensi pengkhianatan.
Kita menjadi lebih sadar akan lingkungan sekitar dan niat orang-orang di sekitar kita, tetapi perlu ada batasan tipis yang harus kita hadapi.
Meskipun kewaspadaan dapat melindungi diri kita dari orang-orang toxic, tetapi ini juga dapat menyebabkan kecemasan jika tidak dikelola dengan baik.
Perlu dipahami bahwa ini adalah insting untuk bertahan hidup, bukan vonis seumur hidup. Oleh karena itu, mari biarkan rasa waspada membimbing kita, namun jangan sampai hal tersebut mengendalikan diri kita.
2. Percaya pada Insting
Tindak pengkhianatan bisa menyebabkan keraguan akan diri sendiri. Hal ini terjadi karena kita sudah memberikan kepercayaan kepada seseorang yang kemudian menghianati keyakinan tersebut.
Walaupun sakit, kita harus mengambil pelajaran dari pengalaman ini, sebab biasanya hal itu membantu kita untuk lebih percaya pada intuisi diri sendiri.
Penyergapan biasanya bermula dari perasaan cemas dan permusuhan. Meskipun ini merupakan suatu kesedihan, namun terdapat pelajaran penting di dalamnya.
Pengalaman ini membantu kita dalam menumbuhkan kepercayaan pada insting pribadi. Sehingga, apabila ada sesuatu yang mencurigakan dari orang lain maupun kondisi tertentu, kita akan menyadarinya bukannya melupakan perasaan tersebut.
Ini tidak melibatkan sikap pesimis atau meragukan, namun lebih kepada memperhatikan perasaan batin kita serta menggunakan hal tersebut sebagai insting untuk kelangsungan hidup.
3. Mengambangkan Ketahanan
Pengkhianatan dapat memberikan trauma emosional yang mendalam pada diri kita, tetapi pengalaman ini memberikan kesempatan kita untuk tumbuh lebih tangguh.
Salah satu tanda pertumbuhan diri adalah ketahanan, ini adalah kemampuan untuk bangkit kembali dari kegagalan atau kesulitan dalam hidup.
Ini tentang menghadapi tantangan secara langsung dan keluar dari tantangan tersebut dengan lebih kuat dan bijaksana.
Walaupun pengkhianatan sungguh-sungguh menimbulkan rasa sakit, namun peristiwa tersebut biasanya berakibat pada pertambahan kekuatan tahan diri kita.
Intinya, kita hanya perlu menjadi lebih siap untuk menghadapi kesulitan di masa mendatang, dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya.
4. Belajar Menetapkan Batasan
Dikhianati oleh orang yang sudah kitapercaya bisa jadi adalah pelajaran berharga bagi diri kita sendiri mengenai kebutuhan untuk menentukan batas-batas.
Ini karena orang-orang yang toxic cenderung mengabaikan batasan yang kita tetapkan demi kenyamanan mereka sendiri.
Maka dari itu, pembatasan menjadi krusial untuk memelihara relasi yang baik. Hal ini memungkinkan kita menyampaikan persyaratan kita secara tegas dan menghindari penyalahgunaan diri.
Setelah mengalami penolakan, kita bisa mempertimbangkan untuk merevaluasi hubungan tersebut dan mensetting batas yang lebih jelas.
Lebih jelas dalam menentukan sikap atau tingkah laku apa saja yang bisa diterima serta yang tidak boleh ditoleransi.
Ini adalah naluri bertahan hidup yang bertujuan untuk melindungi diri dari pengkhianatan di masa mendatang dengan memastikan kebutuhan kita dihormati dan ruang pribadi kita dihargai.
5. Menikmati Kesendirian
Penyergapan kepercayaan kerap kali mengakibatkan isolasi diri. Hal ini lumrah terjadi sebab kita membutuhkan ruang pribadi untuk menikmati kedamaian dalam hati.
Pengalaman ini sungguh menyakitkan dan membuat kami merindukan kemandirian, entah itu dengan memilih untuk berada seorang diri, membaca sebuah buku, menulis, atau hanya duduk-duduk saja.
Pada masa keterasingan ini, kita bisa mulai sungguh-sunguh menyelami emosi diri serta mengawali tahap pemulihan.
Kesepian bisa jadi jawaban penting dalam proses penyembuhan pribadi. Hal ini memberikan kesempatan bagi kita untuk merenungkan luka, menginterpretasikan perasaan, serta menyusun tindakan berikutnya dengan lebih baik.
Ini tidak berbicara tentang bernegosiasi dengan diri sendiri, tapi lebih pada mengambil waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan diri dan berkembang.
6. Menumbuhkan Kemandirian
Satu tahap terberat dalam pengkhianatan adalah ketika kita merasa tak bisa mengandalkan siapa pun, namun hal itu juga bisa memperkuat insting untuk bertahan hidup kita.
Setelah diselingkahi, kita bisa jadi akan merasakan kemandirian yang lebih besar dari sebelumnya.
Kita mulai lebih mempercayai kemampuan dan penilaian kita sendiri, dan seringkali menjadi lebih percaya diri dengan keputusan dan kemampuan kita.
Kemandirian ini adalah bukti kekuatan dan kemampuan kita untuk berdiri tegak, bahkan saat menghadapi kesulitan.
Akan tetapi, bergantung pada kemampuan diri tidak berarti kita perlu menyelesaikan segalanya seorang diri, melainkan lebih kepada menyadari potensi yang ada di dalam diri kita untuk mengatasi rintangan.
7. Menumbuhkan Sikap Pemaaf
Kemampuan untuk bermaaf-memaafkan merupakan sisi terkuat dalam naluri bertahan hidup yang timbul akibat pengalaman dikhianati.
Memberi maaf berarti menghilangkan kebencian atau penderitaan akibat penyalahgunaan kepercayaan yang pernah dialami.
Memaaflkan orang yang telah membetray kita bisa jadi tampak mustahil, namun ini adalah tahap krusial untuk proses pemulihan diri.
Ini berfokus pada pemulihan kekuatan kita serta memilih ketenangan dibandingkan dengan rasa benci. Pengampunan ini lebih ditujukan untuk diri kita sendiri, bukannya bagi orang yang telah melukai kita.